Menghadapi Musibah Demi Musibah

Musibah atau bencana sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Satu musibah mengiringi musibah lainnya. Ia ibarat sapuan-sapuan kuas warna-warni yang mengisi lukisan kehidupan kita. Musibah atau bencana tersebut bisa merupakan ujian/cobaan, peringatan ataupun hukuman kepada kita sebagaimana yang pernah terjadi pada kehidupan manusia sebelumnya. Kalau kita melihat ke kanan, ke kiri, atau bahkan kepada diri kita, warna-warni musibah itu terlihat nyata, berpadu dalam rangkaian episode kehidupan.

Jika demikian, apa yang musti diperbuat ketika musibah menimpa? Akankah kita patang arang, putus harapan, dan kehilangan gairah hidup karena musibah yang datang silih berganti itu? Akankah dunia serasa kiamat? Akankah kita merasa bahwa perut bumi lebih baik daripada permukannya? Bagaimanapun, musibah memang menggoreskan duka. Namun, banyak alasan yang seharusnya membuat manusia untuk tidak larut dalam duka, dengan meratapi nasib atau memaki takdir yang menimpa.

Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah Ta’ala, Dzat yang memberikan kita kehidupan, telah menetapkan hidup kita di dunia tidaklah abadi dan sebagai ujian semata. Allah Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya, artinya: “Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk mengujimu, siapakah di antara kamu semua yang paling baik amalnya Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS: Al-Mulk: 2)

Tidak ada satu tempatpun di alam ini yang terlepas dari Kekuasaan dan Ketetapan Allah Ta’ala, sehingga Allah akan menimpakan berbagai cobaan kepada kita dalam bentuk yang bermacam-macam. Sebagaimana yang dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala, artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan……….” (QS: Al-Baqoroh: 155)

Oleh sebab itu marilah kita menyadari dua hal yaitu pertama bahwa segala bentuk musibah atau bencana yang terjadi adalah merupakan ketetapan Allah Ta’ala, yang bertujuan untuk menguji ataupun memperingatkan/menghukum kita atas amalan-amalan yang telah kita lakukan. Oleh sebab itu setiap individu kita haruslah melakukan intropeksi diri dan bersabar dalam menghadapinya. Allah berfirman, artinya: “…………..,Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ” Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya, kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali)”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: Al-Baqoroh: 155-157)

Dalam Al-Musnad, diriwayatkan dari beliau Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam yang bersabda: “Tidak seorang pun yang tertimpa musibah, lantas mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Allohumma’ jurni fi mushibati wa akhlif li khoiron minha (Sesungguhnya, kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali. Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku dan berilah pula aku pengganti yang lebih baik darinya)”, kecuali Allah pasti memberikan pahala kepadanya atas musibahnya itu dan memberinya pula pengganti yang lebih baik daripadanya ”

Yang kedua yaitu menyadari bahwa kehidupan ini adalah milik Allah Ta’ala, dan pasti kembali kepada Allah Ta’ala. Kalimat tersebut mengandung prinsip-prinsip agung, jika seorang hamba benar-benar memahami prinsip-prinsip itu, ia akan terhibur dari musibah yang menimpanya.

Prinsip pertama adalah, yakin bahwa seorang hamba berserta keluarga dan hartanya benar-benar merupakan milik Allah Ta’ala. Milik Allah itu telah diserahkan kepada hambanya sebagai pinjaman, maka jika Allah mengambil kembali pinjaman itu darinya, kedudukannya seperti pemberi pinjaman yang mengambil barang yang dipinjam. Keluarga dan hartanya itu selalu berada diantara dua ketiadaan, yaitu ketiadaan sebelumnya dan ketiadaan sesudahnya. Kepemilikan hamba terhadapnya hanyalah kesenangan yang dipinjamkan dalam jangka waktu sementara. Hamba bukanlah yang mengadakannya dari ketiadaan, sehingga tidak bisa menjadi pemiliknya secara hakiki. Hamba juga tidak bisa menjaganya dari berbagai bencana setelah ia ada. Juga tidak bisa mengekalkan keberadaannya. Jadi seorang hamba sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadapnya dan tidak memiliki secara hakiki. Bahkan, hanya dapat mempergunakannya dalam batas wewenang tertentu yang terdapat perintah dan larangan dari Allah Ta’ala, bukan sesuka hatinya. Karena itu, seorang hamba tidak berhak melakukan tindakan terhadap pinjaman tersebut kecuali yang sesuai dengan perintah Allah Ta’ala Pemiliknya yang hakiki.

Prinsip kedua adalah yakin bahwa tempat kembali seorang hamba adalah Allah Ta’ala, tuannya yang sejati. Ia pasti akan meninggalkan dunia di belakangnya dan menghadap kepada Robbnya seorang diri, sebagaimana ketika pertama kali ia diciptakan-Nya, tanpa ditemani oleh keluarga, teman, atau kerabat, melainkan hanya ditemani oleh tingkat ketauhidan, amal kebajikan dan amal kejahatan. Bila demikian asal muasal seorang hamba, apa yang ditinggalkannya dan akhir hidupnya, bagaimana ia bisa bergembira dengan sesuatu yang ada atau berduka atas sesuatu yang tiada?

Prinsip ketiga adalah yakin bahwa apa pun yang telah ditakdirkan menimpa dirinya, tidak mungkin untuk dihindari, sebaliknya apapun yang telah ditakdirkan terluput darinya, tidak mungkin menimpanya. Allah berfirman: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS: Al-Hadid: 22-23).

Jadi seorang hamba haruslah bersabar dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tetap berusaha dan semangat sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Wallahu ‘Alam.

(Dikutip dan diolah dengan penyesuaian dari: ‘Ilaaju Harril Mushiybati wa Huznihaa, karya Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)

Disalin dari: Arsip Moslem Blogs dan sumber artikel dari Media Muslim Info

The URI to TrackBack this entry is: https://tsaqofah.wordpress.com/2007/07/02/menghadapi-musibah-demi-musibah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: