Hati-Hati Seribu Satu Rayuan Berhutang

MediaMuslim.Info Bank-bank selalu mengiklankan agar orang melakukan transaksi keuangannya dengan jasa bank. Di antaranya, juga promosi mendapatkan kredit secara mudah. Hal itu karena hasil bank-bank ribawi adalah dari prosentasi bunga uang yang dipinjamkannya. Semakin lama masa pinjaman seseorang semakin besar pula keuntungan yang diraup bank, itulah yang dikehendaki bank. Dan itulah hakikat riba.

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kepada Alloh ‘Azza wa Jalla supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS: Ali Imran: 130). Nabi Shalallaahu alaihi wasalam  bersabda: “Satu dirham uang riba yang dimakan seseorang dan dia mengetahuinya lebih berat (dosanya) dari-pada 36 kali berzina.” (HR: Ahmad, di- shahih-kan oleh Al-Albani).

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam  sungguh telah melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulis dan kedua saksi atasnya. Beliau bersabda, yang artinya: “Mereka itu sama saja.”  (HR. Muslim).

Dalam mu’amalah ribawi, bank selalu mengeruk keuntungan, sedangkan peminjam bisa saja sewaktu-waktu merugi. Adapun banyaknya bank ribawi yang bangkrut, padahal secara matematis selalu untung maka hal itu adalah bukti kebenaran firman Alloh ‘Azza wa Jalla: “Alloh memusnahkan (membangkrutkan) riba dan mengembangkan sedekah.” (QS: Al-Baqarah: 276).

Pemakaian kartu kredit.

Di zaman supra modern ini banyak bertebaran kartu kredit. Pemiliknya bisa membeli apa saja, karena perusahaan yang mengeluarkan kartu kredit itu menjamin membayarnya. Secara lahiriah, pelayanan tersebut adalah rahmat, praktis dan sangat memanjakan. Tetapi ingat, jika mengakhirkan pembayaran untuk beberapa lama maka hutangnya akan menumpuk ditam-bah bunganya. Belum lagi pemilik kartu kredit akan selalu keranjingan untuk berbelanja hingga barang-barang yang tidak perlu sekalipun. Lalu, jika ia tidak segera membayarnya, maka  ia akan terperosok ke dalam riba. Na’udzubillah.

Hindari membeli secara kredit.

Kini membeli barang-barang secara kredit seperti sudah menjadi simbol zaman ini. Padahal ia adalah fenomena yang salah. Orang yang telah membeli secara kredit apalagi dengan nilai nominal yang tinggi- kelak akan menyesal. Sebab misalnya, orang yang membeli mobil secara kredit, dia akan membayar kira-kira dua kali lipat dari harga biasanya. Dan semakin lama masa kreditnya semakin berlipat pula yang harus ia bayar.

Jangan termakan oleh paham yang menyesatkan.

Sebagian orang ada yang berpendapat, orang yang tidak memiliki hutang adalah orang yang diragukan kejantanannya. Bahkan mereka mengolok-olok kawannya yang memiliki hutang sedikit.
Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, berkata: “Tidak diragukan lagi, ini adalah keliru. Bahkan hina tidaknya seseorang tergantung pada hutangnya. Siapa yang tidak memiliki hutang maka dia adalah orang mulia dan siapa yang memiliki hutang maka dialah orang yang hina. Karena sewaktu-waktu orang yang menghutanginya bisa menuntut dan memenjarakannya. Ia adalah orang yang sakit dan menginginkan semua orang sakit seperti dirinya. Karena itu, orang yang berakal tidak perlu mem-pedulikannya.”

Berlindung kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dari tidak bisa mem-bayar hutang.

Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wasallam memperbanyak do’a: “Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalas-an, dari sifat pengecut dan bakhil serta dari tidak mampu membayar hutang dan dari penguasaan orang lain.” (HR. Al-Bukhari). Dari Aisyah, Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wasallam dalam shalatnya berdo’a: “Ya Alloh aku berlindung kepadaMu dari dosa dan hutang.” Maka seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, betapa sering engkau berlindung dari hutang? Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya bila seseorang itu berhutang akan berdusta dan berjanji tetapi ia pungkiri.’ (Fathul Bari, 5/61).

Muliakanlah tamu tanpa berlebihan.

Sebagian orang begitu sangat memuliakan tamunya. Mereka berusaha untuk membeli berbagai makanan untuk menjamu tamunya tersebut, meski terkadang dengan menghutang. Syari’at Islam mengajarkan agar kita memuliakan tamu, tetapi juga menekankan untuk tidak boros. Alloh berfirman, yang artinya: “Dan janganlah kalian berlebih-lebihan (boros), sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS: Al-An’am: 141).

Jangan membebani diri melebihi kemampuan.

Sebagian orang ada yang memaksakan diri, misalnya pergi haji dengan menjual rumah atau sawah tempat penghasilannya sehari-hari, sehingga sekembali dari haji ia menjadi orang yang terlunta-lunta dan sengsara. Padahal Alloh berfirman, yang artinya: “Alloh tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (Al-Baqarah: 286).

Bahkan dalam masalah haji, secara khusus Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Alloh, yaitu atas orang-orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah.” (QS: Ali Imran: 97).

Mempertimbangkan untung-rugi sebelum berusaha.

Sebagian orang begitu melihat kawannya sukses dengan usaha tertentu serta merta ia terjun di bidang yang sama.Tidak diragukan lagi bahwa semua ada dalam taqdir Alloh, tetapi membuka usaha tanpa pertim-bangan matang adalah salah satu sebab kerugian dan terjerat hutang.

Program membayar pinjaman.

Di antara hal yang membantu menyelesaikan hutang adalah membayarnya secara berkala. Bayarlah pinjaman itu berangsur dan jangan menganggap remeh karena sedikit yang dibayarkan. Hal ini insya Alloh akan membantu menyelesaikan hutang secepatnya.

(Sumber Rujukan: Disadur dari kitab hatta la taghriq fid duyun, Adil Muhammad Alu Abdil Ali)

Published in: on November 24, 2006 at 3:04 am  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://tsaqofah.wordpress.com/2006/11/24/hati-hati-seribu-satu-rayuan-berhutang/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Assalaamualaikum

    Mas… saya link ya… ke http://maaini.wordpress.com/2008/04/08/kartu-kredit/
    Bisa nambah pengetahuanku lo…

    Jazakallahu

    Waalaikumsalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: