Menikahi Wanita Yang Sedang Hamil

MediaMuslim.Info - Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah, terkadang masyarakat kita  justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan yang semuanya itu karena kurangnya pemahaman ajaran Islam di dalam setiap keluarga di Indonesia (sampai saat artikel ini ditulis). Bila seorang laki-laki menghamili wanita, dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib, nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ? Mari kita simak pembahasannya !!
Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan, baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat.

Pertama: Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya. Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini, kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini, melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu, diharamkan atas orang-orang yang mu?min.” (QS: An Nur : 3.)

Syaikh Al-Utsaimin berkata, “Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina, dengan arti, bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya.”

Bila seseorang telah mengetahui, bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya, maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan, maka hubungan itu adalah perzinahan. Bila terjadi kehamilan, maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain, anak itu tidak memiliki bapak. Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini, padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkannya, maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. Allah Subhanahu wa Ta\’ala berfirman, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah”  (QS: Asy Syruraa : 21)

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta\’ala menjadikan orang-orang yang membuat syari?at bagi hamba-hamba-Nya sebagai sekutu, berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik.

Namun, bila sudah bertaubat, maka halal menikahinya, tentunya bila syarat ke dua berikut terpenuhi.

Kedua: Dia harus beristibra (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl, bila tidak hamil, dan bila ternyata hamil, maka sampai melahir-kan kandungannya.

Rasulullah bersabda: “Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil, sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil, sampai dia beristibra? dengan satu kali haid. “ (Lihat Mukhtashar Ma\’alimis Sunan 3/74, Kitab Nikah, Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak), Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy, dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan, dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalan-jalannya menjadi kuat dan shahih.(Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851.) )

Di dalam hadits di atas, Rasulullah melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haidl, padahal budak itu sudah menjadi miliknya.

Juga sabdanya: Artinya, “Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain.”  (Abu Dawud, lihat, Artinya: ‘alimus Sunan 3/75-76.)

Mungkin sebagian orang mengatakan, bahwa yang dirahim itu adalah anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak menikahinya. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh , “Tidak boleh menikahi-nya sampai dia taubat dan selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandung-annya, karena perbedaan dua air (mani), najis dan suci, baik dan buruk dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram.”

Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah menga-takan, ?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya, maka dia wajib menung-gu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil, maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya, kecuali setelah dia melahirkan kandungannya, berdasar-kan hadits Nabi  yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.

Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra terlebih dahulu, sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram, maka pernikahannya itu tidak sah. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi, bila telah selesai istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan.

Sumber Rujukan:

  • Minhajul Muslim.

  • Taisiril Fiqhi Lijami’il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, Ahmad Muwafii 2/584, Fatawa Islamiyyah 3/247, Al Fatawa Al Jami\’ah Lil Mar\’ah Al Muslimah 2/5584.

  • Fatawa Islamiyyah 3/246.

  • Syiakh Al Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246.

  • Taisiril Fiqhi Lijami’il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, Ahmad Muwafii 2/583, Majmu Al Fatawa 32/110.

  • Lihat Mukhtashar Ma’alimis Sunan 3/74, Kitab Nikah, Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak), Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy, dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan, dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalan-jalannya menjadi kuat dan shahih.(Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851.)

  • Abu Dawud, lihat, Artinya: ‘alimus Sunan 3/75-76.

  • Fatawa Wa Rasail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128.

About these ads
Published in: on November 24, 2006 at 3:09 am  Komentar (22)  

The URI to TrackBack this entry is: http://tsaqofah.wordpress.com/2006/11/24/menikahi-wanita-yang-sedang-hamil/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

22 KomentarTinggalkan komentar

  1. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    bendapat ini bertentangan

    Haram hukumnya seorang laki-laki menikahi seorang wanita yang sedang mengandung anak dari orang lain. Karena hal itu akan mengakibatkan rancunya nasab anak tersebut.
    Dalilnya adalah beberapa nash berikut ini:
    أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: لا توطأ امرأة حتى تضع
    Nabi SAW bersabda, “Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan.” (HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim)
    لا يحل لامرئ مسلم يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسقى ماءه زرع غيره
    Nabi SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain.” (HR Abu Daud dan Tirmizy)
    Adapun bila wanita yang hamil itu diniakhi oleh laki-laki yang menghamilinya di luar nikah, maka umumnya para ulama membolehkannya, dengan beberapa varisasi detail pendapat:
    a. Pendapat Imam Abu Hanifah
    Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yang menikahi wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya, hukumnya boleh. Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki itu tidak boleh menggaulinya hingga melahirkan.
    b. Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal
    Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yang tidak menghamili tidak boleh mengawini wanita yang hamil. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan dan telah habis masa ‘iddahnya.
    Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi, yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. Jika belum bertobat dari dosa zina, maka dia masih boleh menikah dengan siapa pun. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawawi, jus XVI halaman 253.
    c. Pendapat Imam Asy-Syafi’i
    Adapun Al-Imam Asy-syafi’i, pendapat beliau adalah bahwa baik laki-laki yang menghamili atau pun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43.
    d. Undang-undang Perkawinan RI
    Dalam Kompilasi Hukum Islam dengan instruksi presiden RI no. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan keputusan Menteri Agama RI no. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut:
    • Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
    • Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lebih duhulu kelahiran anaknya.
    • Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
    Semua pendapat yang menghalalkan wanita hamil di luar nikah dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya, berangkat dari beberapa nash berikut ini
    Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR Tabarany dan Daruquthuny).
    Juga dengan hadits berikut ini:
    Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Isteriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (HR Abu Daud dan An-Nasa`i)
    Tidak Perlu Nikah Ulang
    Ketika seorang laki-laki menikah dengan wanita yang terlanjur dihamilinya, maka akad nikahnya itu sudah sah. Sehingga tidak perlu diulangi lagi, karena akad nikah cukup sekali saja. Kalau sudah sah, maka tidak perlu ada pengulangan.

  2. iya

  3. Saya tidak berkomentar tp saya mau bertanya pada forum ini .
    Saya memepunyai 2 seorang kekasih saya sudah berhubungan dengan si A sudah 3 tahun, saya sering melakukan zina tapi sekedar zina kecil slama 3 th, sedangkan dengan si B saya baru 1 th tapi saya sudah melakukan zina besar. saya bingung untuk menikah ! yang manakah harus saya nikah kan?

  4. assalamu’alakum wr.wb.
    begini pak langsung saja ke pertanyaan. bagaimana hukumnya akad ulang pada pernikahan wanita hamil di luar nikah?apa akibat hukumnya?
    mohon penjelasan sejelas-jelasnya karena hal ini terjadidi masyarakat.
    wassalam wr.wb

  5. Ass. Saya hanya ingin bertanya, jika dulu ayah dan ibu saya menikah saat ibu sedang hamil kakak saya dan tidak mengulang akad nikah setelah kakak saya lahir, maka:
    1. Apakah pernikahannya sah?
    2. Apakah ayah saya bisa menjadi wali saya jika saya nanti menikah?

  6. Ass. Saya hanya ingin bertanya,sama seperti yang di atas jika dulu ayah dan ibu suami saya menikah saat ibunya sedang hamil suami saya dan tidak mengulang akad nikah setelah suami saya lahir, maka:
    1. Apakah pernikahan ortu suami sah?
    2. Jika ayah suami saya menjadi walinya saat kami menikah, apakah pernikahan kami sah???
    terimakasih.
    Wassalam

  7. Pendapat di atas terlalu ekstrem dan pasti fundamentalis sejati.
    Wah setuju dengan pak Zoelkifly, S.Si. Rasanya lebih bijak dan lebih cocok di jaman yg kontemporer ini. Rasanya pendapat beliau lebih masuk akal dan tentunya disetai pemikiran yang mendalam dalam menafsirkan sesuatu. Jadi tidak diambil mentahannya thok secara saklek seperti materi diatas.

  8. ass “ikut bertanya”
    ada yang bilang boleh2 saja menikahi wanita yang sedang hamil tetapi sebelum ALLAH meniupkan nyawa ke dalam rahim si wanita apa itu benar???bagaimna hukumnya dengan wanita hamil yang menikah saat usia kndungannya 5 bulan sedangkan pda usia tsb,nyawa telah ditiupkan kedalam rahimnya???mohon jawaban
    terima kasih

    wassalam…

  9. Asalamualaikum WR.WB

    Bagaimana jika hukumnya/beri penjelasan jika,seseorang pacar saya hamil oleh orang lain.akan tetapi laki2 yg menghamilinya sudah menikah dgn orang lain.dengan kterangan saya mengetahui masalah itu ktika pacar saya terlihat tanda2 bagaimana layaknya orang yg sdng mengandung..dari situ pacar saya mengakui jika dia hamil
    Terima kasih….WASSALAM

  10. ASsalammualaikum;;;;;
    kenalin ANA AKHWAT pagar alam city,,,,
    ana mau blang law taubat pasti di trma Ma ALLAH

  11. thx infonya bos

  12. assalamu’alaikum,.wr.wb
    saya sedang mngalami kejadian yg memalukan ini,pacar saya skrnghamil 1bln,saya sungguh mnyesali perbuatan memalukan ini,saya sngat takut u/ mmberi tahukan kpda Orang tua saya,krna pst mereka akan sangat syok n bsa kena serangan jantung,sya ga mau lebih trjerumus smakin dalam lgi, dan saya skarang sangat bingung mana hukum islam yang benar apakah saya harus mnunggu anak saya lahir dulu apa lgsng menikah secepatnya untuk mnutupi aib kluarg…
    apakah diantara anda ada yg mmpunyai solusi yg baek n tepat u/ masalha ini??saya sdah bingung n ga tau hrus berbuat apa skrng,tpi yg paling pnting cara penyampaian berita buruk ini kpd orang tua saya..
    saya cuma pengen menebus kesalahan saya dengan melakukannya sesuai syari’at islam yg sebenar2nya…
    tpi saya butuh masukan dan sumber2 dari banyak pihak krn pngetahuan saya tntang agama islam msih sangat kurang..
    atas perhatiannya saya ucapkan bnyak2 trimakasih….
    semoga ALLOH SWT selalu mmberi ptunjuk kpd hambanya yg benar2 bertobat dan mncari pertolongan,amien..
    wassalamu’alaikum,.wr,.wb

  13. assalamu’alaikum,.wr.wb
    Pacar saya hamil oleh mantannya. Pertanyaan saya : Bagaimana hukumnya menikahi wanita yang sedang hamil muda karena perbuatan orang lain? Apakah sah pernikahan saya dengan dia?

  14. saya mau bertanya ,apa pndapat singkat imam syafi’i dan hasan al-bashary tentang hukum mnikahi wanita hamil d luar nikah ????

  15. wah…sya pribadi…jg awalnya nikah diwalikan oleh penghulu (mungkin nikah syiri sebutanx tanpa berlandaskan hukum)…karena kondisi wali utama tdk dpt hadir. namun setelah memiliki kesempatan yg baik, kami menikah lagi secara hukum…apakah itu diperbolehkan…
    niat menikah tanpa kekuatan hukum itu, kami saling mencintai & tdk ingin berbuat zina, dan meringankan serta menenangkan hati ibu mertua, yg tempat tinggalx sangat jauh (berbeda pulau).
    apakah niat saya itu bisa dikatakan haram?

  16. kenapa komentar2 ini gak di balas

  17. Hukuman menikahi wanita hamil sangat berat apalagi bagi laki-laki yang berzina tidak diakui nasab anaknya kepada bapaknya, tapi nasab anaknya ke ibunya

    http://www.shvoong.com/humanities/religion-studies/2209323-hukum-menikahi-wanita-hamil-karena/

  18. JADI BOLEH GA?????????????????????????????????????????????????????????
    PENJELASAN YG RUMIT TIDAK ADA KESIMPULAN,
    TOBAT,
    NIKAH SELESAI,
    ALLAH MAHA PENGAMPUN JIKA TAUBATANNASUHA

  19. SYUKRAN ATAS ILMUNYA

  20. Ass. Saya hanya ingin bertanya, jika dulu ayah dan ibu saya menikah saat ibu sedang hamil kakak saya dan tidak mengulang akad nikah setelah kakak saya lahir, maka:
    1. Apakah pernikahannya sah?
    2. Apakah ayah saya bisa menjadi wali saya jika saya nanti menikah?

  21. [...] Menikahi Wanita Yang Sedang Hamil [...]

  22. mungkin link ini bisa memberikan pencerahan tentang masalah ini http://aldyblue.blogspot.com/2014/02/hukum-menikahi-wanita-yang-sedang-hamil.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: